Bubur Manado Wakeke


Pada tahun 1981, Ny Ngantung Rompis atau lebih akrab disapa Tante Suli membuka sebuah warung Tinutuan (bubur Manado) di Jalan Wakeke, Manado, Sulawesi Utara. Warungnya ramai, dan sejak saat itu satu per satu warga yang tinggal di Wakeke mengikuti langkahnya.

Hal itu diungkapkan oleh Ronny, pemilik Pondok Bambu, yang juga menjajakan Tinutuan, Januari silam. Warung miliknya berhadapan dengan rumah Tante Suli.

Hingga saat ini nyaris semua rumah di tepi Jalan Wakeke telah menjadi warung untuk menikmati semangkuk Tinutuan. Jalan Wakeke yang panjangnya kurang dari 1 kilometer pun dinobatkan menjadi kawasan wisata makanan tradisional Tinutuan, pada tahun 2004.

Kalau diperhatikan, Tinutuan di sini penampilannya berbeda dengan bubur Manado yang kerap dijual di Jawa. “Bubur di sini bahannya dari labu merah, beras, dan singkong. Kalau ada orang yang mau makan ditanya pakai sayur apa, bayam, kangkung, atau daun gedi. Daun gedi hanya ada di Manado,” ujar Ronny.

Bubur Manado (Tinutuan)

Bubur manado sekarang agak berbeda dengan yang umumnya dimasak pada zaman dulu. “Kalau dulu labu merah dipotong besar dan masaknya terpisah.Kalau sekarang labu merah dijadikan seperti adonan lembut dan dimasak bersama beras dan singkong. Itu dimasak kalau ada yang pesan saja. Dengan cara ini labu merah tetap segar sewaktu disajikan.”

Ronny mengaku setiap hari menghabiskan 3 buah labu merah ukuran besar. Di Manado, labu merah juga dikenal dengan nama sambiki. Selain Tinutuan, warung-warung di Wakeke juga menjajakan makanan khas Manado, seperti mie ikan cakalang dan nike goreng. Nike adalah ikan-ikan kecil yang hanya
ada di Danau Tondano.

Meski di sepanjang jalan ini terdapat banyak penjual Tinutuan, menurut Ronny tak ada persaingan harga. “Semua warung sudah punya pelanggan sendiri-sendiri.”

Menemukan Jalan Wakeke tidaklah sulit. Selain letaknya di tengah kota, ada papan petunjuk besar yang melintang di pintu masuk ruas jalan satu arah ini. Pukul 7 pagi, orang-orang yang hendak sarapan mulai memenuhi jaIan ini. (TYS)

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: